Minggu, 08 Juni 2014

Laporan Klasifikasi Tumbuhan



I. PENDAHULUAN
1.1.  Latar Belakang
Klasifikasi adalah penempatan sebuah kata atau objek tertentu dalam sebuah kelas. Contoh dari klasifikasi adalah sebuah konsep klasifikasi seperti panas atau dingin. Suatu konsep perbandingan, seperti lebih panas atau lebih dingin, mengemukakan hubungan mengenai objek tersebut dalam norma yang mencakup pengertian lebih atau kurang. Kita tidak boleh mengecilkan kegunaan konsep klasifikasi terutama pada bidang-bidang dimana metode keilmuwan danmetode kuantitatif belum berkembang.  Klasifikasi juga dapat berarti usaha menggolong-golongkan segala fase kegiatan dalam sebuah usaha. Dalam pengertian yang lebih sempit maka klasifikasi meliputi usaha mengkategorikan bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi. Adapun alasan orang melakukan klasifikasi ialah agar supaya diketahui dengan pasti fase mana dari kegiatan masuk dalam golongannya, sedang fase lain masuk dalam golongan lain. Disadari orang bahwa klasifikasi itu sangat membantu kelancaran jalannya sebuah usaha atau kegiatan apapun dan memudahkan atau meringankan pekerjaan, baik pelaksana maupun pemberi instruksi.
Seperti kita ketahui, mahluk hidup di dunia ini banyak sekali ragam jenisnya. Perhatikan saja jenis hewan dan tumbuhan yang hidup di sekitar kita. Banyak sekali bukan? Nah, bagaimana kita dapat mempelajari mahluk hidup di sekitar kita? Tentunya akan sulit jika mahluk hidup yang beragam jenis tersebut tidak dikelompokkan. Itulah sebabnya  seorang ahli botani berkebangsaan Swedia yang dikenal dengan Carolus Linnaeus (1707-1778) melakukan klasifikasi mahluk hidup.
Klasifikasi mahluk hidup adalah pengelompokan mahluk hidup berdasarkan persamaan dan perbedaan ciri yang dimilikinya. Ilmu yang mempelajari tentang klasifikasi mahluk hidup disebut dengan Taksonomi.
 
Tujuan dari klasifikasi makhluk hidup adalah
ü  mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri-ciri yang dimiliki.
ü  mendeskripsikan ciri-ciri suatu jenis makhluk hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis yang lain.
ü  mengetahui hubungan kekerabatan antarmakhluk hidup.
ü  memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui namanya.
Berdasarkan tujuan tersebut, sistem klasifikasi makhluk hidup memiliki manfaat seperti berikut.
ü  Memudahkan kita dalam mempelajari makhluk hidup yang sangat beraneka ragam.
ü  Mengetahui hubungan kekerabatan antara makhluk hidup satu dengan yang lain.
Tahapan dalam klasifikasi mahluk hidup yang dilakukan oleh Linnaeus adalah sebagai berikut :
1.        Pencandraan atau identifikasi, yaitu proses mengidentifikasi atau mendeskripsikan ciri-ciri mahluk hidup yang akan diklasifikasi.
2.        Pengelompokan, yaitu mengelompokkan mahluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya.  Mahluk hidup yang mempunyai ciri-ciri yang sama dikelompokkan dalam satu kelompok yang sama yang disebut dengan takson.
3.        Pemberian nama takson. Mahluk hidup yang telah dikelompokkan tadi, selanjutnya diberi nama untuk mempermudah kita mengenal ciri-ciri suatu kelompok mahluk hidup tertentu.
Linnaeus memperkenalkan  hierarkki (tingkat) takson untuk mengelompokkan makhluk hidup. Hierarki (yang disebut takson) itu berturut-turut dari tingkatan tertinggi (umum) hingga terendah (spesifik) adalah :
·       Kingdom (kerajaan)
·       Phylum (Filum) untuk hewan, atau Divisio (Divisi) untuk tumbuhan
·       Classis (Kelas)
·       Ordo (Bangsa)
·       Familia(Keluarga/Suku)
·       Genus (Marga)
·       Spesies (Jenis)

Keterangan :
Dari spesies menuju kingdom, takson semakin tinggi
Semakin tinggi takson, jumlah organisme (makhluk hidup) semakin banyak
Semakin tinggi takson, persamaan antar makhluk hidup semakin sedikit
Semakin tinggi takson, perbedaan antar makhluk hidup semakin banyak
Dari kingdom menuju spesies, takson semakin rendah
Semakin rendah takson, jumlah organisme (makhluk hidup) semakin sedikit
Semakin rendah takson, persamaan antar makhluk hidup semakin banyak
Semakin rendah takson, perbedaan antar makhluk hidup semakin sedikit
Tabel 1. Contoh klasifikasi tumbuhan Jeruk bali.
Gambar
Takson
Tumbuhan
 
Kingdom
Plantae
Divisio
Magnoliophyta
Class
Magnoliopsida
Ordo
Sapindales
Familia
Rutaceae
Genus
Citrus
Spesies
Citrus grandi

Klasifikasi tumbuhan adalah pembentukan kelompok-kelompok dari seluruh tumbuhan yang ada di bumi ini hingga dapat disusun takson-takson secara teratur mengikuti suatu hierarki. Kegiatan klasifikasi tidak lain adalah pembentukan kelompok-kelompok makhluk hidup dengan cara mencari keseragaman ciri atau sifat di dalam keanekaragaman ciri yang ada pada makhluk hidup tersebut.
Salah satu sapek yang diperlukan dalam mempelajari tumbuha (botani) adalah pengetahuan tentang nama botani (ilmiah/latin) jenis-jenis tumbuhan. Sebab seseorang yang bekerja dengan suatu jenis tumbuhan harus yakin bahwa materi yang ditanganinya benar-benar sesuai dengan nama menurut standar taksonomi tumbuhan. Sekali ia mempublikasikan hasil pekerjaannya dan menyebarluasakannya, seluruh dunia akan siap menyerap informasi tentang jenis tumbuhan yang dipublikasikan tersebut dengan berpegang kepada nama botani yang dikenakan. Nama ilmiah suatu tumbuhan merupakan sebuah kunci mukjizat untuk membuka khazanah yang berisi semua pengetahuan tentang jenis tumbuhan tersebut (Naiola, 1986).
Untuk memudahkan penentuan hubungan kekerabatan dan memperlancar pelaksanaan penggolongan tumbuhan, maka diadakan kesatuan-kesatuan taksonomi yang berbeda-beda tingkatnya. Sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang dicantumkan dalam Kode Tatanama, maka suatu individu tumbuhan dapat dimasukkan dalam tingkat-tingkat kesatuan taksonomi sebagai berikut (dalam urutan menurun, beserta akhiran-akhiran nama ilmiahnya):
·           Dunia tumbuh-tumbuhan (Regnum Vegetabile)
·           Divisi (divisio -phyta)
·           Anak divisi (sub divisio -phytina)
·           Kelas (classis -opsida, khusus untuk Alga –phyceae)
·           Anak kelas (subclassis –idea)
·           Bangsa (ordo –ales)
·           Anak bangsa (subordo –ineae)
·           Suku (familia –aceae)
·           Anak suku (subfamilia –oideae)
·           Puak (tribus –eae)
·           Anak puak (subtribus –inae)
·           Marga (genus; nama ilmiah marga dan semua tingkat di bawahnya tidak diseragamkan akhirannya)
·           Anak marga (subgenus)
·           Seksi (sectio)
·           Anak seksi (subsectio)
·           Deret (series)
·           Anak deret (subseries)
·           Jenis (species)
·           Varietas (varietas)
·           Forma (forma)
Urutan tingkat-tingkat kesatuan taksonomi itu tidak boleh diubah atau dipertukarkan. Dengan tidak memperhatikan tingkatnya maka setiap kesatuan taksonomi tersebut masing-masing disebut takson(Anonim, 2007).
·           Manfaat klasifikasi Selain memiliki tujuan, klasifikasi juga bermanfaat untuk kepentingan  manusia. Adapun manfaat klasifikasi antara lain sebagai berikut.
Menyederhanakan objek studi. Apabila kita akan mempelajari sesuatu tidak perlu semua makhluk hidup  yang ada di muka bumi diteliti satu persatu, tetapi cukup dengan sampel atau perwakilan dari objek tersebut yang dianggap sudah mewakili semua. Misalnya untuk mempelajari serangga atau lebah dengan karekteristik yang mewakili serangga tersebut.
·           Diketahui hubungan kekerabatan. Dengan melihat hubungan pengelompokan\klasifikasi tersebut dapat diketahui hubungan kekerabatannya. Misalnya, ayam lebih dekat hubungan kekerabatannya dengan bebek daripada dengan ular.

1.2.    Tujuan
ü  Pengenalan contoh-contoh tumbuhan tingkat rendah.
ü  Mempelajari dan mengenal Spermatophyta (tumbuhan tingkat tinggi).


 
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.    Sejarah dan Perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup
            Pada abad ke 18 (sekitar 250 tahun lalu), Carolus Linnaeus, ahli Botani warga Swedia, memperkenalkan sistem klasifikasi makhluk hidup berdasar kepada penampakan fisiknya. Sebelumnya pun sudah ada metoda klasifikasi namun tidak lengkap dan sebagus yang diusulkan ole Linneaus. Setiap organisme sejenis masuk dalam kelompok species, species kepada genus, setiap genus ke family tertentu; yang urutan klasifikasinya dari atas: kingdom, phylum, class, ordo, family, genus, species. Suatu yang khas terjadi pada masa itu, biologi pun dicampur adukkan dengan teologi.
Kemudian munculah Darwin dengan teori evolusinya bahwa kehidupan di bumi ini berhubugan erat dengan pohon evolusi raksasa, dengan organisme ber-sel satu dibagian akarnya dan species yang survive di masa ini ada di puncaknya. Antara akar dan puncak pohon terdapat jutaan (kalau tidak milyaran) cabang yang menunjukkan masa-masa sejarah berkembangnya evolusi mahluk hidup. Taxonomi dari Linneus ini pun tetap dipakai karena sistem klasifikasi berdasar kemiripan ini sesuai dengan apa yang jadi fakta evolusi.
Namun perkembangan pesat teori evolusi terutama dengan berbagai penemuan fosil di abad lalu, makin menunjukkan bahwa klasifikasi berdasasar kemiripan dari Linneus ini tidak cukup bagus lagi. Misalnya Willi Hennig, entomolog dari Jerman pada 1960-an memperkenalkan cladistik, suatu metoda penentuan cabang dalam pohon kehidupan. ‘Penyesuaian’ pada metoda taxonomi Linneus ini mengelompokkan organisme berdasar pada leluhurnya dibanding hanya berdasar kemiripan. Namun pembaharuan ini pun dianggap makin membuat kesimpangsiuran oleh saintis yang kemudian memperkenalkan sistem klasifikasi baru yang bernama Phylocode.
Dengan kata lain, kelompok Phylocode beranggapan lebih baik mulai dari awal lagi melakukan klasifikasi mahluk hidup yang bukan berdasar kemiripan seperti yang diusung oleh Linneus hampir 3 abad lalu itu.
Phylocode mengelompokkan ular boa, buaya amerika dan burung pipit dalam satu kelompok kekerabatan yang sama (reptilia), karena berdasar kejadian evolusi mahluk hidup, bahkan kekerabatan burung pipit lebih dekat ke buaya dibanding ke ular boa, sedangkan Linneus tidak melakukannya karena memang dari segi penampakkan fisik sangat jauh berbeda. Perlukah siswa mengetahui debat aktual dalam biologi seperti halnya pada system klasifikasi makhluk hidup? Relevansi memunculkan masalah ini lebih dari sekedar menunjukkan perkembangan mutakhir ilmu pengetahuan, juga memperkenalkan pada siswa bahwa ide-ide dalam sains terus direvisi dengan adanya penemuan baru dan sains pun melakukannya secara reguler.
Perkembangan Klasifikasi makhluk hidup telah dikenal sejak zaman dulu. Ahli filosof Yunani, Aristoteles (384-322 SM) mengelompokan makhluk hidup kedalam dua kelompok besar yaitu kelompok hewan dan kelompok tumbuhan, namun keberadaan organisme mikroskopis belum dikenal pada saat itu. Sistem klasifikasi makhluk hidup terus mengalami kemajuan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Sistem klasifikasi makhluk hidup dikelompokan dalam satu-satuan kelompok besar yang disebut kingdom. Sistem kingdom yang pertama diperkenalkan oleh Linnaeus. Sistem kingdom pun terus mengalami perubahan dan perbaikan hingga sekarang dan sering menjadi pro dan kontra bagi para ilmuwan.
1.        Sistem Dua kingdom
·         Kingdom Animalia (Dunia Hewan).
·         Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan).
Sistem ini dikembangkan oleh ilmuwan Swedia C. Linnaeus tahun 1735.
2.        Sistem Tiga Kingdom
·         Kingdom Animalia (Dunia Hewan).
·         Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan).
·         Kingdom Protista (Organisme bersel satu dan organisme multiseluler sederhana)
Sistem ini dikembangkan oleh ahli Biologi Jerman Ernest Haeckel tahun 1866.

3.        Sistem Empat Kingdom
·      Kingdom Animalia (Dunia Hewan).
·      Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan).
·      Kingdom Protista.
·      Kingdom Monera.
Sistem Ini dikembangkan oleh ahli Biologi Amerika Herbert Copeland tahun 1956.
4.    Sistem Lima Kingdom
·       Kingdom Animalia (Dunia Hewan).
·       Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan).
·       Kingdom Protista..
·       Kingdom Monera.
·       Kingdom Fungi (Dunia Jamur).
Sistem ini dikembangkan oleh ahli Biologi Amerika Robert H. Whittaker tahun 1969.
5.    Sistem Enam Kingdom
·       Kingdom Animalia (Dunia Hewan).
·       Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan).
·       Kingdom Protista .
·       Kingdom Mycota (Dunia Jamur).
·       Kingdom Eubacteria.
·       Kingdom Archaebacteria.
Sistem ini dikembangkan oleh ahli Biologi Amerika Carl Woese 1977.

2.2. Taksonomi Dunia Tumbuhan
Perbedaan dasar yang digunakan dalam klasifikasi tumbuhan akan memberikan hasil klasifikasi yang berbeda – beda sehingga terbentuklah sistem klasifikasi yang berlainan. Berdasarkan tingkat peradababnnya, manusia yang pertama-tama melakukan kegiatan di bidang taksonomi tumbuhan khususnya klasifikasi pasti memilah-milah dan mengelompokkan tumbuhan berdasarkan atas kesaman ciri-ciri yang berkaitan langsung dengan kehidupan manusia. Misalnya dihasilkan kelompok tumbuhan penghasil bahan pangan, penghasil bahan sandang, penghasil bahan obat dan lain-lain. Selain itu jug a dapat berdasarkan ciri-ciri yang mudah dilihat dengan mata telanjang seperti perawakan tumbuhan. Berdasarkan perawakan tumbuhan (habitus), tumbuhan dikelompokkan menjadi empat yaitu, pohon (arbor), yang tumbuh tinggi dan besar serta berumur panjang, perdu, semak, dan terna (herba).
Seiring dengan kemajuan teknologi dan peradaban ciri-ciri tumbuhan yang pada mulanya tidak dapat diamati dapat dipertimbangkan untuk dijadikan dasar dalam pengklasifikasian. Karena teknologi yang lebih maju telah dapat mengamati bagian tersebut misalnya ciri-ciri anatomi, kandungan zat-zat kimia dan lain-lain.
Dalam dunia taksonomi tumbuhan dikenal berbagai sistem klasifikasi yang masing-masing diberi nama berdasarkan tujuan yang ingin dicapai atau dasar yang digunakan dalam pengklasifikasian. Sistem klasifikasi yang bertujuan pada penyederhanan objek studi dalam bentuk suatu ikhtisar lengkap seluruh tumbuhan disebut sistem buatan atau sistem artifisial. Dengan keterlibatan ilmu-ilmu lain dalam taksonomi tumbuhan muncul sistem klasifikasi lain yang tidak hanya bertujuan menyederhanakan objek sistem klasifikasinya disebut sistem alam.
Setelah lahirnya teori evolusi muncul sistem filogenentik yang mencita-citakan tercerminnya jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara golongan tumbuhan yang satu dengan golongan tumbuhan yang lain serta urutannya dalam sejarah perkembangan filogenetik tumbuhan.
Kemajuan dalam ilmu kimia dapat mengungkap zat-zat apa saja yang ada dalam tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan timbulnya saran agar pengklasifikasian tumbuhan juga didasarkan pada kesamaan atau kekerabatan zat-zat kimia yang terkandung di dalamnya. Sehingga terbentuk suatu aliran atau cabang dalam taksonom tumbuhan yang disebut kemotaksonomi.
Keberdaan teknologi canggih, salah satunya komputer maka berkembang suatu aliran yang dikenal sebagai taksimetri atau taksonometri yang berusaha untuk menentukan jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara dua takson tumbuhan melalui sistem pemberian nilai untuk kemiringan yang terdapat pada organ yang sama pada dua kelompok tumbuhan yang berbeda dan kemudian dengan penerapan analisis kelompok (CLUSTER analisis) dibentuk kelompok-klompok untuk menggambarkan jauh dekatnya hubungan kekerabatan diantara anggota kelompok.
2.3. Divisio Tumbuhan
Divisio atau divisi adalah istilah yang sama dengan filum. Divisio dipakai dalam taksonomi untuk kerajaan tumbuhan dan fungi.
Terdapat beberapa versi divisio tumbuhan, namun versi-versi ini umumnya sepakat pada sebagian besar pembagian. Divisio-divisio tersebut adalah

Superdivisio Bryophyta

·       Bryophyta (Lumut-lumutan),

Superdivisio Pteridophyta

·       Lycopodiophyta (Rane dan Paku kawat),
·       Psilophyta (Psilofita),
·       Equisetophyta (Paku ekor kuda),
·       Filicophyta atau Pteridophyta (Paku-pakuan atau pakis-pakisan),

Superdivisio Tumbuhan berbiji (Spermatophyta)

·       Cycadophyta (Pakis haji atau sikas),
·       Ginkgophyta (Ginkgo),
·       Pinophyta (Tumbuhan berdaun jarum atau tumbuhan runjung / konifer),
·       Gnetophyta (Melinjo-melinjoan, dan
·       Magnoliophyta atau Angiospermophyta (Tumbuhan berbiji tertutup).
Tumbuhan berbunga pada zaman ini mendominasi dunia tanaman (80% dari seluruh tanaman berpembuluh atau tracheophyta).




III. BAHAN DAN METODE
3.1. Tempat dan Waktu
Kegiatan praktikum Acara II (klasifikasi tumbuhan) dilaksanakan di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya. Kegiatan dilakukan pada hari Rabu, 10 Oktober 2012 jam 15.00 - 16.30 WIB.

3.2. Peralatan
            Peralatan yang digunakan adalah mikroskop biologi (mikroskop binokuler dan monokuler), gelas piala 250 ml, kaca pembesar, pisau, pipet tetes, pinset, jarum bertangkai, kaca objek, dan kaca penutup.

3.3. Cara Kerja
a.         Terlebih dahulu kita siapkan bahan-bahan yang telah ditentukan oleh asisten.
b.        Tidak lupa kita harus menyiapkan mikroskop terlebih dahulu, untuk melakukan penelitian mengenai bakteri.
c.         Untuk mendapatkan contoh bakteri yang mudah dilakukan dengan mengambil air dari comberan, lalu lakukan penelitian pada mikroskop yang telah disiapkan.
d.        Lalu ditulis dalam lembar kertas hasil pengamatan tersebut untuk di jadikan llampiran pada sebuah laporan.
e.         Dan kemudian gambar bahan pada lembar kertas kemuadian lakukan penelitian. Jenis-jenis apakah bahan tersebut dan termasuk dalam spcies apakah bahan trsebut.
                               

 

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
                   Dari hasil pengenalan dan pengamatan beberapa klasifikasi tumbuhan di sub laboratorium biologi jurusan Budidaya Fakultas Pertanian UNPAR di sajikan pada Tabel 1 berikut.
Tabel 2.    Hasil pengamatan klasifikasi tumbuhan yang digunakan di sub laboratorium biologi jurusan Budidaya Fakultas Pertanian UNPAR.
No
Divisio
Species
Ciri-ciri
Cara Pembiakan
Keterangan
1.
Sprmathopyta
Pinus merkusi
ü Daun berbentuk jarum
ü Memiliki strobilus
ü Daun berwarna hijau
(berklorofil).
ü Secara seksual
ü Termasuk sub
Gymnosperm-ae
ü Mengalami pembukaan terbuka
2.
Sprmathopyta
Melinjo
ü Berdaun lebar memanjang
ü Memiliki tangkai buah
ü Buah berbentuk buah telur
ü Daun berwarna ijau (berklorofil)
ü Buah muda berwarna hijau dan tua berwarna merah.
ü Secara seksual
ü Termasuk Angiospermae
ü Mengalami pembukaan tertutup
3.





4.
Sprmathopyta





Sprmathopyta
Alang-alang





Putri Malu
ü Daun panjang
ü Bunga memiliki strobilus
ü Daun jika dipegang akan mengatup

ü Daun kecil-kecil
ü Batang berduri
ü Bunga memiliki Strobilus
ü Daun jika dipegang akan mengatup
ü Secara seksual





ü Secar seksual

ü Termasuk Gymnospermae
ü Mengalami pembukaan terbuka


ü Termasuk Angiospermae
ü Mengalami pembukaan tertutup

5.
Bryophyta
Lumut
ü Daun lumut setebal satu lapis sel
ü Daunnya mengandung Kloroplas
ü Daun lebih dari satu yang kecil, sempit,, dan panjang
ü Memiliki Strobilus.
ü Secara aseksual dan seksual
ü Pembiakan silih berganti atau penggiliran keturunan 

6.
Thllophyta
Jamus Ganoderma
ü Hidup sebagai parasit atau saprofit pada kayu.
ü Memiliki Strobilus
ü Pori-pori kecil dan rapat
ü Tidak berklorofil
ü Secara Seksual
ü Penyerbukan melalui angin
7.
Schizophyta
Bakteri
ü Organisme multi seluler
ü Prokariot (tidak memiliki membran inti sel)
ü Umumnya tidak memiliki klorofil
ü Memiliki ukuran tubuh yang berfariasi antara 0,12 s/d ratusan micron, umumnya memiliki ukuran 1 s/d 5 mikron.
ü Hidup bebas atau parasit
ü Secara Aseksual
ü Pertukaran genetik dan bakteri lain
8.
Saccharomyces
Jamur Roti
ü Memiliki hifa pendek bercabang-cabang
ü Memiliki Sporangifor
ü Pada ujung terdapat Sporangium
ü Terdapat Stolon
ü Secara Seksual
ü Menghasilkan Spora
9.
Pteridophyta
Paku Fertil
ü Daun panjang pada batang dan berruas
ü Memiliki Spora pada bagian belakang, daun dan batang
ü Daun berwarna hijau
ü Sesual
ü Melalui Spora

4.2. Pembahasan
            Ada beberapa bahan klasifikasi tumbuhan yang dilakukan penelitian pada laboratorium. Berbagai bahan yang dapat digunakan  di laboratorium dalam praktikum biologi. Bahan-bahan tersebut dapat dikelompokan menjadi 6 Divisio, yaitu spermatophyta, bryophyte, thallophyta, schizophyta, saccharomyces,, pteridopyta.
4.2.1.   Spermatophyta
            Spermatophyta (tumbuhan berbiji) memiliki ciri-ciri antara lain: makroskopis dengan ketinggian bervariasi, bentuk tubuhnya bervariasi, cara hidup fotoautotrof, habitatnya kebanyakan di darat tapi ada juga yang mengapung di air (teratai), mempunyai pembuluh floem dan xilem, reproduksi melalui penyerbukan (polinasi) dan pembuahan (fertilisasi). Tumbuhan biji dibedakan menjadi dua golongan yaitu tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae). Didalam penelitian Spermatophyta d bagi 4 tumbuhan yaitu pinus merkusi, melinjo, alang-alang, dan putri malu
a.        Pinus Merkusi
Tumbuhan berkayu, panjang 30-50 (70) m, diameter batang 60-80 cm, selalu berdaun hijau, saat pohon muda pucuk selalu berbentuk kerucut, dengan cabang kuat. Daun dimorfik, tersusun spiral, berbentuk jarum, panjang 15-25 cm, hijau gelap, langsing dan kaku, dengan satu atau dua berkas pembuluh pengangkutan dan saluran resin. Tumbuhan ini hampir selalu berumah satu. Strobilus ♂ aksilar atau terminal pada sirung pendek, dengan banyak mikrosporofil bertangkai dan dua kantong sari. Serbuk sari dengan dua gelembung udara, yang pada perkecambahan merupakan dua sel protalium. Strobilus ♀ terminal atau aksilar, dengan banyak sisik-sisik penutup yang tersusun dalam spiral. Pada ketiak sisik penutup terdapat satu sisik biji dengan dua bakal biji yang mikropilnya menghadap ke sumbu. Sehabis penyerbukan sisik-sisik penutup dan sisik-sisik biji membesar dan mengayu selanjutnya terjadilah buah yang berbentuk kerucut. Biji kecil, oval, ringan, mempunyai sayap ke samping, lembaga dengan 2-15 daun lembaga. Berbunga pada bulan Mei-Juni. Buah masak pada bulan Oktober-Nopember. Daerah penyebaran hanya dijumpai di belahan selatan ekuator yaitu  Kamboja, Vietnam, Thailand, Burma, Pilipina, China, Malaysia dan Indonesia (Sumatera). Sangat baik tumbuh  pada ketinggian 800-2000 m dpl., area terbuka, dan tanah berpasir atau tanah merah.
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Coniferophyta
Kelas: Pinopsida
Ordo: Pinales
 Famili: Pinaceae
Genus: Pinus
Spesies: Pinus merkusii Jungh.& De Vr.





Gambar 1. Pinus Merkusi
Sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyFK6qMu6wFZt1yyuDPWEV3VHJUsfhfZrxBC4zExvzAoU2RGLQt3C43qMAOIw6LPeBPm6ZzzB5F1MTHMHGLKL6fIa6x5DcBoySdSco_nCxWWneEqZtCv0o07kKos0gUrMsJXvmIotxI_A/s1600/Pinus_merkusii.jpg
  






b.        Melinjo (Gnetum gnemon Linn)
            Melinjo merupakan tumbuhan tahunan berbiji terbuka, berbentuk pohon yang berumah dua (dioecious, ada individu jantan dan betina). Bijinya tidak terbungkus daging tetapi terbungkus kulit luar. Batangnya kokoh dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Daunnya tunggal berbentuk oval dengan ujung tumpul. Melinjo tidak menghasilkan bunga dan buah sejati karena bukan termasuk tumbuhan berbunga. Yang dianggap sebagai buah sebenarnya adalah biji yang terbungkus oleh selapis aril yang berdaging.
Tanaman melinjo dapat tumbuh mencapai 100 tahun lebih dan setiap panen raya mampu menghasilkan melinjo sebanyak 80 - 100 Kg, bila tidak dipangkas bisa mencapai ketinggian 25 m dari permukaan tanah.
Tanaman melinjo dapat diperbanyak dengan cara generatif (biji) atau vegetatif (cangkokan, okulasi, penyambungan dan stek).
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Plantae
Divisi:
Gnetophyta
Kelas:
Gnetopsida
Ordo:
Gnetales
Famili:
Gnetaceae
Genus:
Gnetum
Spesies:
G. gnemon
Nama binomial Gnetum gnemon L.
           








Gambar 2. Melinjo (Gnetum gnemon)
Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/2d/Gnetum_gnemon.jpg/200px-Gnetum_gnemon.jpg
 







c.         Alang-alang (Imperata cylindrical L.)
Alang-alang atau ilalang ialah sejenis rumput berdaun tajam, yang kerap menjadi gulma di lahan pertanian. Rumput ini juga dikenal dengan nama-nama daerah seperti alalang, halalang (Min.), lalang (Mly., Md., Bl.), eurih (Sd.), rih (Bat.), jih (Gayo), re (Sas., Sumbawa), rii, kii, ki (Flores), rie (Tanimbar), reya (Sulsel), eri, weri, weli (Ambon dan Seram), kusu-kusu (Menado, Ternate dan Tidore), nguusu (Halmahera), wusu, wutsu (Sumba) dan lain-lain.
Nama ilmiahnya adalah Imperata cylindrica, dan ditempatkan dalam anak suku Panicoideae. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bladygrass, cogongrass, speargrass, silver-spike atau secara umum disebut satintail, mengacu pada malai bunganya yang berambut putih halus. Orang Belanda menamainya snijgras, karena sisi daunnya yang tajam melukai.
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:
Plantae
Divisi:
Magnoliophyta
Kelas:
Liliopsida
Ordo:
Poales
Famili:
Poaceae
Genus:
Imperata
Spesies:
I. cylindrica
Nama binomial Imperata cylindrical (L.)
Gambar 3. Alang-alang
Sumber: http://biojana.com/wp-content/uploads/2012/08/Alang-alang.jpg
 











d.        Putri Malu (Mimosa pudica L)
Putri malu atau Mimosa pudica adalah perdu pendek anggota suku polong-polongan yang mudah dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat menutup/"layu" dengan sendirinya saat disentuh. Walaupun sejumlah anggota polong-polongan dapat melakukan hal yang sama, putri malu bereaksi lebih cepat daripada jenis lainnya. Kelayuan ini bersifat sementara karena setelah beberapa menit keadaannya akan pulih seperti semula.
Tumbuhan ini memiliki banyak sekali nama lain sesuai sifatnya tersebut, seperti makahiya (Filipina, berarti "malu"), mori vivi (Hindia Barat), nidikumba (Sinhala, berarti "tidur"), mate-loi (Tonga, berarti "pura-pura mati") . Namanya dalam bahasa Tionghoa berarti "rumput pemalu". Kata pudica sendiri dalam bahasa Latin berarti "malu" atau "menciut".
Keunikan dari tanaman ini adalah bila daunnya disentuh, ditiup, atau dipanaskan akan segera "menutup". Hal ini disebabkan oleh terjadinya perubahan tekanan turgor pada tulang daun. Rangsang tersebut juga bisa dirasakan daun lain yang tidak ikut tersentuh. Gerak ini disebut seismonasti, yang walaupun dipengaruhi rangsang sentuhan (tigmonasti), sebagai contoh, gerakan tigmonasti daun putri malu tidak peduli darimana arah datangnya sentuhan. Tanaman ini juga menguncup saat matahari terbenam dan merekah kembali setelah matahari terbit. Tanaman putri malu menutup daunnya untuk melindungi diri dari hewan pemakan tumbuhan (herbivora) yang ingin memakannya. Warna daun bagian bawah tanaman putri malu berwarna lebih pucat, dengan menunjukkan warna yang pucat, hewan yang tadinya ingin memakan tumbuhan ini akan berpikir bahwa tumbuhan tersebut telah layu dan menjadi tidak berminat lagi untuk memakannya.
Gambar 4. Putri Malu
Sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg02sTJ94E_9H21VhuOYB8L2ozV7yrgZ1Sa-2O7m0Mu-H8m94uzIZy2Ns5lZ9Eq0Eh_ypL0vWvjsLeP2s5LviBT-ODTDbt3Fcq7pSNhpyPx5GJe2qjC1KhHMBh_TkuhgO-6aQjiAiLa4Ys/s1600/putri+malu.jpg
 











                                                                              





4.2.2.   Lumut (Bryophyta)
            Tumbuhan lumut merupakan sekumpulan tumbuhan kecil yang termasuk dalam Bryophytina (dari bahasa Yunani bryum, "lumut").
Tumbuhan ini sudah menunjukkan diferensiasi tegas antara organ penyerap hara dan organ fotosintetik namun belum memiliki akar dan daun sejati. Kelompok tumbuhan ini juga belum memiliki pembuluh sejati. Alih-alih akar, organ penyerap haranya adalah rizoid (harafiah: "serupa akar"). Daun tumbuhan lumut dapat berfotosintesis. Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan pelopor, yang tumbuh di suatu tempat sebelum tumbuhan lain mampu tumbuh. Ini terjadi karena tumbuhan lumut berukuran kecil tetapi membentuk koloni yang dapat menjangkau area yang luas. Jaringan tumbuhan yang mati menjadi sumber hara bagi tumbuhan lumut lain dan tumbuhan yang lainnya.
Dalam bahasa sehari-hari, istilah "lumut" dapat merujuk pada beberapa divisio. Klasifikasi lama pun menggabungkan pula lumut hati dan lumut tanduk ke dalam Bryophyta, sehingga di dalam Bryophyta terangkum lumut tanduk, lumut hati, dan lumut sejati (Musci). Namun, perkembangan dalam taksonomi tumbuhan menunjukkan bahwa penggabungan ini parafiletik, sehingga diputuskan untuk memisahkan lumut hati dan lumut tanduk ke luar dari Bryophyta. Di dunia terdapat sekitar 4.000 spesies tumbuhan lumut (termasuk lumut hati), 3.000 di antaranya tumbuh di Indonesia[1]. Kebun Raya Cibodas di Jawa Barat memiliki "taman lumut" yang mengoleksi berbagai tumbuhan lumut dan lumut hati dari berbagai wilayah di Indonesia dan dunia.




           
           
Gambar 5. Lumut
Sumber: http://www.fobi.web.id/fbi/d/21141-2/Bryophyta_CM_002.jpg
 





4.2.3.   Thallophyta
                        Divisi ini meliputi tumbuhan-tumbuhan yang memiliki ciri utama tubuh yang berbentuk talus. Tumbuhan talus merupakan tumbuhan yang struktur tubuhnya masih belum bisa dibedakan antara akar, batang dan daun. Sedangkan tumbuhan yang sudah dapat dibedakan antara akar, batang dan daun disebut dengan tumbuhan kormus. Ciri laen dari tumbuhan talus ini adalah tersusun oleh satu sel yang berbentuk bulat hingga banyak sel yang kadang-kadang mirip dengan tumbuhan tingkat tinggi (sudah mengalami diferensiasi). Perkembangbiakan pada umumnya secara vegetatif (aseksual) dan generatif (seksual) dengan spora sebagai alat perkembangbiakannya. Perkembangbiakan secara generatif terjadi melalui peleburan gamet yang terbentuk didalam organ yang disebut gametangium. Cara hidup pada tumbuhan talus ada tiga cara yaitu : autotrof (asimilasi dengan fotosintesis), heterotrof dan simbiosis.
a.        Jamur Ganoderma
Ganoderma sp. merupakan jamur patogen (penyebab penyakit) akar merah yang menyebabkan kerusakan tanaman perkebunan dan kehutanan. Karena sifatnya yang memiliki kisaran inang yang luas, tidak mengherankan kalau Ganoderma sp. menyerang berbagai jenis tanaman kehutanan dan perkebunan, misalnya beberapa spesies akasia (Acacia mangium, A. auriculiformis, A. oraria), sengon (Paraserianthes falcataria), flamboyan (Delonix regia), cemara (Casuarina equisetifolia), angsana (Pterocarpus indicus), dan kelapa sawit.
Sebagai respon dari meningkatnya serangan jamur akar di perkebunan, peneliti telah melakukan berbagai penelitian tentang jamur Ganoderma sp.  yang difokuskan pada pengendalian hayati menggunakan jamur lain yang bersifat parasit terhadap Ganoderma sp., yaitu Trichoderma sp. Trichoderma spp. dikenal sebagai salah satu jamur yang mempunyai sifat antagonis terhadap jamur tanah lain. penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa Trichoderma spp. mempunyai kemampuan antagonistic dalam menghambat pertumbuhan jamur-jamur pathogen terbawa tanah, termasuk Ganodema sp.


Gambar 6. Jamur Ganoderma
Sumber: http://images03.olx.co.id/ui/10/13/68/1291742314_144800568_1-Jamur-Ganoderma-tembung-1291742314.jpg
 
















4.2.4.   Schizophyta
a.         Bakteri
Bakteri (dari kata Latin bacterium; jamak: bacteria) adalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan berukuran sangat kecil (mikroskopik), serta memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi. Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok lainnya dapat memberikan manfaat dibidang pangan, pengobatan, dan industri. Struktur sel bakteri relatif sederhana: tanpa nukleus/inti sel, kerangka sel, dan organel-organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Hal inilah yang menjadi dasar perbedaan antara sel prokariot dengan sel eukariot yang lebih kompleks.
Bakteri dapat ditemukan di hampir semua tempat: di tanah, air, udara, dalam simbiosis dengan organisme lain maupun sebagai agen parasit (patogen), bahkan dalam tubuh manusia. Pada umumnya, bakteri berukuran 0,5-5 μm, tetapi ada bakteri tertentu yang dapat berdiameter hingga 700 μm, yaitu Thiomargarita. Mereka umumnya memiliki dinding sel, seperti sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan bahan pembentuk sangat berbeda (peptidoglikan). Beberapa jenis bakteri bersifat motil (mampu bergerak) dan mobilitasnya ini disebabkan oleh flagel.


Gambar 7. Bakteri
Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/32/EscherichiaColi_NIAID.jpg/210px-EscherichiaColi_NIAID.jpg
 












4.2.5.   Pteridophyta
            Tumbuhan paku (atau paku-pakuan) adalah sekelompok tumbuhan dengan sistem pembuluh sejati (Tracheophyta, memiliki pembuluh kayu dan pembuluh tapis) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksi seksualnya. Alih-alih biji, kelompok tumbuhan ini mempertahankan spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi.
Tumbuhan paku tersebar di seluruh bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000, dengan perkiraan 3.000 di antaranya tumbuh di Indonesia. Sebagian besar anggota paku-pakuan tumbuh di daerah tropika basah yang lembab.
Paku-pakuan cenderung ditemukan pada kondisi tumbuh marginal, seperti lantai hutan yang lembab, tebing perbukitan, merayap pada batang pohon atau batuan, di dalam kolam/danau, daerah sekitar kawah vulkanik, serta sela-sela bangunan yang tidak terawat. Meskipun demikian, ketersediaan air yang mencukupi pada rentang waktu tertentu diperlukan karena salah satu tahap hidupnya tergantung pada keberadaan air, yaitu sebagai media bergeraknya sel sperma menuju sel telur.
Tumbuhan paku pernah merajai hutan-hutan dunia di Zaman Karbon sehingga zaman itu dikenal sebagai masa keemasan tumbuhan paku. Serasah hutan tumbuhan pada zaman ini yang memfosil dan mengalami mineralisasi sekarang ditambang orang sebagai batu bara.
Menurut petunjuk-petunjuk paleontologi, banyak yang bersepakat bahwa dari suatu bentuk tumbuhan paku purba terwujudlah tumbuhan berbunga, suatu kelompok tumbuhan yang mendominasi vegetasi masa kini.
a.        Paku Fertil
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang telah memiliki kormus atau tumbuhan yang sudah mempunyai akar, batang, dan daun sejati, juga telah memiliki jaringan pengangkut xilem dan floem yang terdapat pada daun, batang, dan akarnya.  
Tumbuhan paku dapat hidup di atas tanah atau batu, menempel di kulit pohon (epifit), di tepi sungai di tempattempat yang lembap (higrofit), hidup di air (hidrofit), atau di atas sampah atau sisa tumbuhan atau hewan (saprofit).  Sebagian besar tumbuhan paku mempunyai batang yang tumbuh di dalam tanah yang disebut rhizoma. 
Daun mulai tumbuh dari rhizoma tersebut. Daun paku muda ujungnya selalu menggulung. Daun paku dewasa terdiri atas daun fertil dan daun steril. Daun steril adalah daun yang tidak ada bintil-bintil hitam di permukaan bawah daunnya. Daun ini disebut juga daun mandul. Daun fertil adalah daun paku yang di permukaan bawah daunnya terdapat bintil-bintil kehitaman.  
Daun ini disebut juga daun subur. Bintil-bintil kehitaman yang terletak di permukaan bawah daun ini adalah kumpulan sporangium yang disebut sorus. 






Gambar 8. Paku Fertil
Sumber: http://otastories.files.wordpress.com/2012/06/sorus.jpg
 




V. KSIMPULAN DAN SARAN
5.1.    Kesimpulan
                        Dengan adanya praktikum ini,kita bisa mengenal beberapa contoh tumbuhan tingkat rendah seperti Schizophyta, Thollphyta, Bryopita, dan Ploridophita dan juga dapat mempelajari dan mengenal Spermatophyta (tumbuhan tingkat tinggi). Selain itu juga bisa mengetahui beberapa jenis tumbuhan dan klasifikasi tumbuhan tersebut seperti bagian-bagian akar, batang, daun, dan lain sebagainya.  Dan juga bisa mengetahui secara jelas ciri-ciri dari tumbuhan tersebut dan bentuk dari tumbuhan tersebut. 
Klasifikasi adalah penempatan sebuah kata atau objek tertentu dalam sebuah kelas. Contoh dari klasifikasi adalah sebuah konsep klasifikasi seperti panas atau dingin. Suatu konsep perbandingan, seperti lebih panas atau lebih dingin, mengemukakan hubungan mengenai objek tersebut dalam norma yang mencakup pengertian lebih atau kurang. Kita tidak boleh mengecilkan kegunaan konsep klasifikasi terutama pada bidang-bidang dimana metode keilmuwan danmetode kuantitatif belum berkembang.  Klasifikasi juga dapat berarti usaha menggolong-golongkan segala fase kegiatan dalam sebuah usaha. Dalam pengertian yang lebih sempit maka klasifikasi meliputi usaha mengkategorikan bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi. Adapun alasan orang melakukan klasifikasi ialah agar supaya diketahui dengan pasti fase mana dari kegiatan masuk dalam golongannya, sedang fase lain masuk dalam golongan lain. Disadari orang bahwa klasifikasi itu sangat membantu kelancaran jalannya sebuah usaha atau kegiatan apapun dan memudahkan atau meringankan pekerjaan, baik pelaksana maupun pemberi instruksi.
            Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa praktikan perlu mengetahui klasifikasi tumbuhan terlebih dahulu dan mencari bahan terlebih dahulu sebelum melakukan praktikum dalam laboratorium agar praktikum dapat berjalan lancar dan kesalahan yang terjadi akibat ketidaktahuan praktikan terhadap alat-alat laboratorium dapat dihindari.


5.2. Saran
1.    Dalam melakukan praktikum hendaknya memakai jas lab.
2.    Setelah praktikum selesai semua bahan-bahan dan alat-alatnya dikembalikan ketempatnya.
3.    Waktu menggunakan atau memegang alat-alat mikroskop dan bahannya harus hati-hati.
4.    Apabila asisstan menjelaskan harus benar-benar diperhatkan atau di catat agar nanti mudah dalam pembuatan laporan.
           



DAFTAR PUSTAKA
Balbach, M dan L.C. Bliss. 1996. A Laboratory Manual For Botanu. Sounders College Publishing, New York.
Copeland, Herbert. 1956. Sistem Empat Kingdom. Amerika.
Haeckel, Ernest. 1866.Sistem Tiga Kingdom. Jerman.
Hennig, Willi. 1960. Metoda Penentuan Cabang Dalam Pohon Kehidupan. Entomolog. Jerman.
Jacklet, A. 1998. Laboratory Manual Life. Trird Editional. Jerman.
Linnaeus, Carolus. 1735. Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup Berdasarkan Kepada Penampakan Fisiknya.Swedia.
Linnaeus, C. 1735. Sistem Dua Kingdom. Swedia.
Whittaker, H, Robert1969. Sistem Lima Kondom. Amerika. 

http://biology4ever.wordpress.com/2011/02/12/klasifikasi/
http://deceng.wordpress.com/2007/11/08/klasifikasi-mahluk-hidup/
http://emprorerfaisal.blogspot.com/2011/11/klasifikasi-makhluk-hidup.html

 

LAMPIRAN

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews