I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Klasifikasi adalah
penempatan sebuah kata atau objek tertentu dalam sebuah kelas. Contoh dari
klasifikasi adalah sebuah konsep klasifikasi seperti panas atau dingin. Suatu
konsep perbandingan, seperti lebih panas atau lebih dingin, mengemukakan
hubungan mengenai objek tersebut dalam norma yang mencakup pengertian lebih
atau kurang. Kita tidak boleh mengecilkan kegunaan konsep klasifikasi terutama
pada bidang-bidang dimana metode keilmuwan danmetode kuantitatif belum
berkembang. Klasifikasi juga dapat
berarti usaha menggolong-golongkan segala fase kegiatan dalam sebuah usaha.
Dalam pengertian yang lebih sempit maka klasifikasi meliputi usaha
mengkategorikan bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi. Adapun alasan
orang melakukan klasifikasi ialah agar supaya diketahui dengan pasti fase mana
dari kegiatan masuk dalam golongannya, sedang fase lain masuk dalam golongan
lain. Disadari orang bahwa klasifikasi itu sangat membantu kelancaran jalannya
sebuah usaha atau kegiatan apapun dan memudahkan atau meringankan pekerjaan,
baik pelaksana maupun pemberi instruksi.
Seperti kita ketahui, mahluk hidup di dunia ini banyak sekali ragam
jenisnya. Perhatikan saja jenis hewan dan tumbuhan yang hidup di sekitar kita.
Banyak sekali bukan? Nah, bagaimana kita dapat mempelajari mahluk hidup di
sekitar kita? Tentunya akan sulit jika mahluk hidup yang beragam jenis tersebut
tidak dikelompokkan. Itulah sebabnya seorang ahli botani berkebangsaan
Swedia yang dikenal dengan Carolus
Linnaeus (1707-1778) melakukan klasifikasi mahluk hidup.
Klasifikasi mahluk hidup adalah pengelompokan mahluk hidup berdasarkan
persamaan dan perbedaan ciri yang dimilikinya. Ilmu yang mempelajari tentang
klasifikasi mahluk hidup disebut dengan Taksonomi.
Tujuan dari
klasifikasi makhluk hidup adalah
ü
mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan
persamaan ciri-ciri yang dimiliki.
ü
mendeskripsikan ciri-ciri suatu jenis makhluk
hidup untuk membedakannya dengan makhluk hidup dari jenis yang lain.
ü
mengetahui hubungan kekerabatan antarmakhluk
hidup.
ü
memberi nama makhluk hidup yang belum diketahui
namanya.
Berdasarkan
tujuan tersebut, sistem klasifikasi makhluk hidup memiliki manfaat seperti
berikut.
ü Memudahkan
kita dalam mempelajari makhluk hidup yang sangat beraneka ragam.
ü Mengetahui
hubungan kekerabatan antara makhluk hidup satu dengan yang lain.
Tahapan
dalam klasifikasi mahluk hidup yang dilakukan oleh Linnaeus adalah sebagai
berikut :
1.
Pencandraan atau identifikasi, yaitu proses
mengidentifikasi atau mendeskripsikan ciri-ciri mahluk hidup yang akan
diklasifikasi.
2.
Pengelompokan, yaitu mengelompokkan mahluk hidup
berdasarkan ciri-ciri yang dimilikinya. Mahluk hidup yang mempunyai
ciri-ciri yang sama dikelompokkan dalam satu kelompok yang sama yang disebut
dengan takson.
3.
Pemberian nama takson. Mahluk hidup yang telah
dikelompokkan tadi, selanjutnya diberi nama untuk mempermudah kita mengenal
ciri-ciri suatu kelompok mahluk hidup tertentu.
Linnaeus memperkenalkan hierarkki (tingkat)
takson untuk mengelompokkan makhluk hidup. Hierarki (yang disebut takson) itu
berturut-turut dari tingkatan tertinggi (umum) hingga terendah (spesifik)
adalah :
·
Kingdom (kerajaan)
·
Phylum (Filum) untuk hewan, atau Divisio
(Divisi) untuk tumbuhan
·
Classis (Kelas)
·
Ordo (Bangsa)
·
Familia(Keluarga/Suku)
·
Genus (Marga)
·
Spesies (Jenis)
Keterangan
:
Dari
spesies menuju kingdom, takson semakin tinggi
Semakin tinggi takson, jumlah organisme (makhluk
hidup) semakin banyak
Semakin tinggi takson, persamaan antar makhluk
hidup semakin sedikit
Semakin tinggi takson, perbedaan antar makhluk
hidup semakin banyak
Dari kingdom menuju spesies, takson semakin
rendah
Semakin rendah takson, jumlah organisme (makhluk
hidup) semakin sedikit
Semakin rendah takson, persamaan antar makhluk
hidup semakin banyak
Semakin rendah takson, perbedaan antar makhluk
hidup semakin sedikit
Tabel
1. Contoh klasifikasi tumbuhan Jeruk bali.
Gambar
|
Takson
|
Tumbuhan
|
Kingdom
|
Plantae
|
|
Divisio
|
Magnoliophyta
|
|
Class
|
Magnoliopsida
|
|
Ordo
|
Sapindales
|
|
Familia
|
Rutaceae
|
|
Genus
|
Citrus
|
|
Spesies
|
Citrus grandi
|
Klasifikasi tumbuhan adalah pembentukan
kelompok-kelompok dari seluruh tumbuhan yang ada di bumi ini hingga dapat
disusun takson-takson secara teratur mengikuti suatu hierarki. Kegiatan
klasifikasi tidak lain adalah pembentukan kelompok-kelompok makhluk hidup
dengan cara mencari keseragaman ciri atau sifat di dalam keanekaragaman ciri
yang ada pada makhluk hidup tersebut.
Salah satu sapek yang diperlukan dalam
mempelajari tumbuha (botani) adalah pengetahuan tentang nama botani
(ilmiah/latin) jenis-jenis tumbuhan. Sebab seseorang yang bekerja dengan suatu
jenis tumbuhan harus yakin bahwa materi yang ditanganinya benar-benar sesuai
dengan nama menurut standar taksonomi tumbuhan. Sekali ia mempublikasikan hasil
pekerjaannya dan menyebarluasakannya, seluruh dunia akan siap menyerap
informasi tentang jenis tumbuhan yang dipublikasikan tersebut dengan berpegang
kepada nama botani yang dikenakan. Nama ilmiah suatu tumbuhan merupakan sebuah
kunci mukjizat untuk membuka khazanah yang berisi semua pengetahuan tentang
jenis tumbuhan tersebut (Naiola, 1986).
Untuk memudahkan penentuan hubungan
kekerabatan dan memperlancar pelaksanaan penggolongan tumbuhan, maka diadakan
kesatuan-kesatuan taksonomi yang berbeda-beda tingkatnya. Sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang dicantumkan dalam Kode Tatanama, maka suatu individu
tumbuhan dapat dimasukkan dalam tingkat-tingkat kesatuan taksonomi sebagai
berikut (dalam urutan menurun, beserta akhiran-akhiran nama ilmiahnya):
·
Dunia tumbuh-tumbuhan (Regnum Vegetabile)
·
Divisi (divisio -phyta)
·
Anak divisi (sub divisio -phytina)
·
Kelas (classis -opsida, khusus untuk Alga
–phyceae)
·
Anak kelas (subclassis –idea)
·
Bangsa (ordo –ales)
·
Anak bangsa (subordo –ineae)
·
Suku (familia –aceae)
·
Anak suku (subfamilia –oideae)
·
Puak (tribus –eae)
·
Anak puak (subtribus –inae)
·
Marga (genus; nama ilmiah marga dan semua
tingkat di bawahnya tidak diseragamkan akhirannya)
·
Anak marga (subgenus)
·
Seksi (sectio)
·
Anak seksi (subsectio)
·
Deret (series)
·
Anak deret (subseries)
·
Jenis (species)
·
Varietas (varietas)
·
Forma (forma)
Urutan tingkat-tingkat kesatuan taksonomi itu tidak
boleh diubah atau dipertukarkan. Dengan tidak memperhatikan tingkatnya maka
setiap kesatuan taksonomi tersebut masing-masing disebut takson(Anonim, 2007).
·
Manfaat
klasifikasi Selain memiliki tujuan, klasifikasi juga bermanfaat untuk
kepentingan manusia. Adapun manfaat klasifikasi antara lain sebagai
berikut.
Menyederhanakan objek studi. Apabila kita akan mempelajari sesuatu tidak perlu semua makhluk hidup yang ada di muka bumi diteliti satu persatu, tetapi cukup dengan sampel atau perwakilan dari objek tersebut yang dianggap sudah mewakili semua. Misalnya untuk mempelajari serangga atau lebah dengan karekteristik yang mewakili serangga tersebut.
Menyederhanakan objek studi. Apabila kita akan mempelajari sesuatu tidak perlu semua makhluk hidup yang ada di muka bumi diteliti satu persatu, tetapi cukup dengan sampel atau perwakilan dari objek tersebut yang dianggap sudah mewakili semua. Misalnya untuk mempelajari serangga atau lebah dengan karekteristik yang mewakili serangga tersebut.
·
Diketahui hubungan kekerabatan. Dengan melihat
hubungan pengelompokan\klasifikasi tersebut dapat diketahui hubungan
kekerabatannya. Misalnya, ayam lebih dekat hubungan kekerabatannya dengan bebek
daripada dengan ular.
1.2. Tujuan
ü Pengenalan
contoh-contoh tumbuhan tingkat rendah.
ü Mempelajari
dan mengenal Spermatophyta (tumbuhan tingkat tinggi).
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sejarah
dan Perkembangan Klasifikasi Makhluk Hidup
Pada abad ke 18 (sekitar 250 tahun
lalu), Carolus Linnaeus, ahli Botani warga Swedia, memperkenalkan sistem
klasifikasi makhluk hidup berdasar kepada penampakan fisiknya. Sebelumnya pun
sudah ada metoda klasifikasi namun tidak lengkap dan sebagus yang diusulkan ole
Linneaus. Setiap organisme sejenis masuk dalam kelompok species, species kepada
genus, setiap genus ke family tertentu; yang urutan klasifikasinya dari atas:
kingdom, phylum, class, ordo, family, genus, species. Suatu yang khas terjadi
pada masa itu, biologi pun dicampur adukkan dengan teologi.
Kemudian munculah
Darwin dengan teori evolusinya bahwa kehidupan di bumi ini berhubugan erat
dengan pohon evolusi raksasa, dengan organisme ber-sel satu dibagian akarnya
dan species yang survive di masa ini ada di puncaknya. Antara akar dan puncak
pohon terdapat jutaan (kalau tidak milyaran) cabang yang menunjukkan masa-masa
sejarah berkembangnya evolusi mahluk hidup. Taxonomi dari Linneus ini pun tetap
dipakai karena sistem klasifikasi berdasar kemiripan ini sesuai dengan apa yang
jadi fakta evolusi.
Namun perkembangan
pesat teori evolusi terutama dengan berbagai penemuan fosil di abad lalu, makin
menunjukkan bahwa klasifikasi berdasasar kemiripan dari Linneus ini tidak cukup
bagus lagi. Misalnya Willi Hennig, entomolog dari Jerman pada 1960-an
memperkenalkan cladistik, suatu metoda penentuan cabang dalam pohon kehidupan.
‘Penyesuaian’ pada metoda taxonomi Linneus ini mengelompokkan organisme
berdasar pada leluhurnya dibanding hanya berdasar kemiripan. Namun pembaharuan
ini pun dianggap makin membuat kesimpangsiuran oleh saintis yang kemudian
memperkenalkan sistem klasifikasi baru yang bernama Phylocode.
Dengan kata lain,
kelompok Phylocode beranggapan lebih baik mulai dari awal lagi melakukan
klasifikasi mahluk hidup yang bukan berdasar kemiripan seperti yang diusung
oleh Linneus hampir 3 abad lalu itu.
Phylocode
mengelompokkan ular boa, buaya amerika dan burung pipit dalam satu kelompok
kekerabatan yang sama (reptilia), karena berdasar kejadian evolusi mahluk
hidup, bahkan kekerabatan burung pipit lebih dekat ke buaya dibanding ke ular
boa, sedangkan Linneus tidak melakukannya karena memang dari segi penampakkan
fisik sangat jauh berbeda. Perlukah siswa mengetahui debat aktual dalam biologi
seperti halnya pada system klasifikasi makhluk hidup? Relevansi memunculkan
masalah ini lebih dari sekedar menunjukkan perkembangan mutakhir ilmu
pengetahuan, juga memperkenalkan pada siswa bahwa ide-ide dalam sains terus
direvisi dengan adanya penemuan baru dan sains pun melakukannya secara reguler.
Perkembangan Klasifikasi makhluk hidup telah dikenal sejak zaman dulu.
Ahli filosof Yunani, Aristoteles (384-322 SM) mengelompokan makhluk hidup
kedalam dua kelompok besar yaitu kelompok hewan dan kelompok tumbuhan, namun
keberadaan organisme mikroskopis belum dikenal pada saat itu. Sistem
klasifikasi makhluk hidup terus mengalami kemajuan seiring berkembangnya ilmu
pengetahuan dan teknologi. Sistem klasifikasi makhluk hidup dikelompokan dalam
satu-satuan kelompok besar yang disebut kingdom. Sistem kingdom yang pertama
diperkenalkan oleh Linnaeus. Sistem kingdom pun terus mengalami perubahan dan
perbaikan hingga sekarang dan sering menjadi pro dan kontra bagi para ilmuwan.
1.
Sistem Dua kingdom
·
Kingdom Animalia (Dunia Hewan).
·
Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan).
Sistem ini
dikembangkan oleh ilmuwan Swedia C. Linnaeus tahun 1735.
2.
Sistem Tiga Kingdom
·
Kingdom Animalia (Dunia Hewan).
·
Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan).
·
Kingdom Protista (Organisme bersel satu dan
organisme multiseluler sederhana)
Sistem ini
dikembangkan oleh ahli Biologi Jerman Ernest Haeckel tahun 1866.
3.
Sistem Empat Kingdom
·
Kingdom Animalia (Dunia Hewan).
·
Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan).
·
Kingdom Protista.
·
Kingdom Monera.
Sistem
Ini dikembangkan oleh ahli Biologi Amerika Herbert Copeland tahun 1956.
4. Sistem Lima Kingdom
4. Sistem Lima Kingdom
·
Kingdom Animalia (Dunia Hewan).
·
Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan).
·
Kingdom Protista..
·
Kingdom Monera.
·
Kingdom Fungi (Dunia Jamur).
Sistem
ini dikembangkan oleh ahli Biologi Amerika Robert H. Whittaker tahun 1969.
5. Sistem Enam Kingdom
5. Sistem Enam Kingdom
·
Kingdom Animalia (Dunia Hewan).
·
Kingdom Plantae (Dunia Tumbuhan).
·
Kingdom Protista .
·
Kingdom Mycota (Dunia Jamur).
·
Kingdom Eubacteria.
·
Kingdom Archaebacteria.
Sistem
ini dikembangkan oleh ahli Biologi Amerika Carl Woese 1977.
2.2. Taksonomi
Dunia Tumbuhan
Perbedaan dasar yang digunakan dalam klasifikasi tumbuhan akan memberikan
hasil klasifikasi yang berbeda – beda sehingga terbentuklah sistem klasifikasi
yang berlainan. Berdasarkan tingkat peradababnnya, manusia yang pertama-tama
melakukan kegiatan di bidang taksonomi tumbuhan khususnya klasifikasi pasti
memilah-milah dan mengelompokkan tumbuhan berdasarkan atas kesaman ciri-ciri
yang berkaitan langsung dengan kehidupan manusia. Misalnya dihasilkan kelompok
tumbuhan penghasil bahan pangan, penghasil bahan sandang, penghasil bahan obat
dan lain-lain. Selain itu jug a dapat berdasarkan ciri-ciri yang mudah dilihat
dengan mata telanjang seperti perawakan tumbuhan. Berdasarkan perawakan
tumbuhan (habitus), tumbuhan dikelompokkan menjadi empat yaitu, pohon (arbor),
yang tumbuh tinggi dan besar serta berumur panjang, perdu, semak, dan terna
(herba).
Seiring dengan
kemajuan teknologi dan peradaban ciri-ciri tumbuhan yang pada mulanya tidak
dapat diamati dapat dipertimbangkan untuk dijadikan dasar dalam pengklasifikasian.
Karena teknologi yang lebih maju telah dapat mengamati bagian tersebut misalnya
ciri-ciri anatomi, kandungan zat-zat kimia dan lain-lain.
Dalam dunia
taksonomi tumbuhan dikenal berbagai sistem klasifikasi yang masing-masing
diberi nama berdasarkan tujuan yang ingin dicapai atau dasar yang digunakan
dalam pengklasifikasian. Sistem klasifikasi yang bertujuan pada penyederhanan
objek studi dalam bentuk suatu ikhtisar lengkap seluruh tumbuhan disebut sistem
buatan atau sistem artifisial. Dengan keterlibatan ilmu-ilmu lain dalam
taksonomi tumbuhan muncul sistem klasifikasi lain yang tidak hanya bertujuan
menyederhanakan objek sistem klasifikasinya disebut sistem alam.
Setelah lahirnya
teori evolusi muncul sistem filogenentik yang mencita-citakan tercerminnya jauh
dekatnya hubungan kekerabatan antara golongan tumbuhan yang satu dengan
golongan tumbuhan yang lain serta urutannya dalam sejarah perkembangan
filogenetik tumbuhan.
Kemajuan dalam
ilmu kimia dapat mengungkap zat-zat apa saja yang ada dalam tumbuh-tumbuhan
yang menyebabkan timbulnya saran agar pengklasifikasian tumbuhan juga
didasarkan pada kesamaan atau kekerabatan zat-zat kimia yang terkandung di
dalamnya. Sehingga terbentuk suatu aliran atau cabang dalam taksonom tumbuhan
yang disebut kemotaksonomi.
Keberdaan
teknologi canggih, salah satunya komputer maka berkembang suatu aliran yang
dikenal sebagai taksimetri atau taksonometri yang berusaha untuk menentukan
jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara dua takson tumbuhan melalui sistem
pemberian nilai untuk kemiringan yang terdapat pada organ yang sama pada dua
kelompok tumbuhan yang berbeda dan kemudian dengan penerapan analisis kelompok
(CLUSTER analisis) dibentuk kelompok-klompok untuk menggambarkan jauh dekatnya
hubungan kekerabatan diantara anggota kelompok.
2.3. Divisio
Tumbuhan
Divisio atau divisi adalah istilah yang sama dengan
filum. Divisio dipakai dalam taksonomi
untuk kerajaan tumbuhan dan fungi.
Terdapat beberapa versi divisio
tumbuhan, namun versi-versi ini umumnya sepakat pada sebagian besar pembagian.
Divisio-divisio tersebut adalah
Superdivisio Bryophyta
Superdivisio Pteridophyta
Superdivisio Tumbuhan berbiji (Spermatophyta)
Tumbuhan berbunga pada zaman ini
mendominasi dunia tanaman (80% dari seluruh tanaman berpembuluh atau tracheophyta).
III. BAHAN DAN METODE
3.1. Tempat dan Waktu
Kegiatan
praktikum Acara II (klasifikasi tumbuhan) dilaksanakan di Laboratorium Jurusan
Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya. Kegiatan
dilakukan pada hari Rabu, 10 Oktober 2012 jam 15.00 - 16.30 WIB.
3.2. Peralatan
Peralatan yang digunakan adalah
mikroskop biologi (mikroskop binokuler dan monokuler), gelas piala 250 ml, kaca
pembesar, pisau, pipet tetes, pinset, jarum bertangkai, kaca objek, dan kaca
penutup.
3.3. Cara Kerja
a.
Terlebih dahulu kita siapkan bahan-bahan yang telah
ditentukan oleh asisten.
b.
Tidak lupa kita harus menyiapkan mikroskop terlebih dahulu,
untuk melakukan penelitian mengenai bakteri.
c.
Untuk mendapatkan contoh bakteri yang mudah dilakukan dengan
mengambil air dari comberan, lalu lakukan penelitian pada mikroskop yang telah
disiapkan.
d.
Lalu ditulis dalam lembar kertas hasil pengamatan tersebut
untuk di jadikan llampiran pada sebuah laporan.
e.
Dan kemudian gambar bahan pada lembar kertas kemuadian
lakukan penelitian. Jenis-jenis apakah bahan tersebut dan termasuk dalam spcies
apakah bahan trsebut.
IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
Dari hasil pengenalan
dan pengamatan beberapa klasifikasi tumbuhan di sub laboratorium biologi
jurusan Budidaya Fakultas Pertanian UNPAR di sajikan pada Tabel 1 berikut.
Tabel 2. Hasil
pengamatan klasifikasi tumbuhan yang digunakan di sub laboratorium biologi
jurusan Budidaya Fakultas Pertanian UNPAR.
No
|
Divisio
|
Species
|
Ciri-ciri
|
Cara Pembiakan
|
Keterangan
|
1.
|
Sprmathopyta
|
Pinus merkusi
|
ü Daun berbentuk
jarum
ü Memiliki strobilus
ü Daun berwarna hijau
(berklorofil).
|
ü Secara seksual
|
ü Termasuk sub
Gymnosperm-ae
ü Mengalami pembukaan
terbuka
|
2.
|
Sprmathopyta
|
Melinjo
|
ü Berdaun lebar memanjang
ü Memiliki tangkai
buah
ü Buah berbentuk buah
telur
ü Daun berwarna ijau
(berklorofil)
ü Buah muda berwarna
hijau dan tua berwarna merah.
|
ü Secara seksual
|
ü Termasuk
Angiospermae
ü Mengalami pembukaan
tertutup
|
3.
4.
|
Sprmathopyta
Sprmathopyta
|
Alang-alang
Putri Malu
|
ü Daun panjang
ü Bunga memiliki
strobilus
ü Daun jika dipegang
akan mengatup
ü Daun kecil-kecil
ü Batang berduri
ü Bunga memiliki Strobilus
ü Daun jika dipegang
akan mengatup
|
ü Secara seksual
ü Secar seksual
|
ü Termasuk
Gymnospermae
ü Mengalami pembukaan
terbuka
ü Termasuk
Angiospermae
ü Mengalami pembukaan
tertutup
|
5.
|
Bryophyta
|
Lumut
|
ü Daun lumut setebal
satu lapis sel
ü Daunnya mengandung
Kloroplas
ü Daun lebih dari
satu yang kecil, sempit,, dan panjang
ü Memiliki Strobilus.
|
ü Secara aseksual dan
seksual
|
ü Pembiakan silih
berganti atau penggiliran keturunan
|
6.
|
Thllophyta
|
Jamus Ganoderma
|
ü Hidup sebagai
parasit atau saprofit pada kayu.
ü Memiliki Strobilus
ü Pori-pori kecil dan
rapat
ü Tidak berklorofil
|
ü Secara Seksual
|
ü Penyerbukan melalui
angin
|
7.
|
Schizophyta
|
Bakteri
|
ü Organisme multi
seluler
ü Prokariot (tidak
memiliki membran inti sel)
ü Umumnya tidak
memiliki klorofil
ü Memiliki ukuran
tubuh yang berfariasi antara 0,12 s/d ratusan micron, umumnya memiliki ukuran
1 s/d 5 mikron.
ü Hidup bebas atau
parasit
|
ü Secara Aseksual
|
ü Pertukaran genetik
dan bakteri lain
|
8.
|
Saccharomyces
|
Jamur Roti
|
ü Memiliki hifa
pendek bercabang-cabang
ü Memiliki
Sporangifor
ü Pada ujung terdapat
Sporangium
ü Terdapat Stolon
|
ü Secara Seksual
|
ü Menghasilkan Spora
|
9.
|
Pteridophyta
|
Paku Fertil
|
ü Daun panjang pada
batang dan berruas
ü Memiliki Spora pada
bagian belakang, daun dan batang
ü Daun berwarna hijau
|
ü Sesual
|
ü Melalui Spora
|
4.2. Pembahasan
Ada beberapa bahan
klasifikasi tumbuhan yang dilakukan penelitian pada laboratorium. Berbagai bahan
yang dapat digunakan di laboratorium dalam
praktikum biologi. Bahan-bahan tersebut dapat dikelompokan menjadi 6 Divisio,
yaitu spermatophyta, bryophyte, thallophyta, schizophyta, saccharomyces,,
pteridopyta.
4.2.1. Spermatophyta
Spermatophyta (tumbuhan
berbiji) memiliki ciri-ciri antara lain: makroskopis dengan ketinggian
bervariasi, bentuk tubuhnya bervariasi, cara hidup fotoautotrof, habitatnya
kebanyakan di darat tapi ada juga yang mengapung di air (teratai), mempunyai
pembuluh floem dan xilem, reproduksi melalui penyerbukan (polinasi) dan
pembuahan (fertilisasi). Tumbuhan biji dibedakan menjadi dua golongan yaitu
tumbuhan berbiji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan berbiji tertutup
(Angiospermae). Didalam penelitian Spermatophyta d bagi 4 tumbuhan yaitu pinus
merkusi, melinjo, alang-alang, dan putri malu
a.
Pinus Merkusi
Tumbuhan
berkayu, panjang 30-50 (70) m, diameter batang 60-80 cm, selalu berdaun hijau,
saat pohon muda pucuk selalu berbentuk kerucut, dengan cabang kuat. Daun
dimorfik, tersusun spiral, berbentuk jarum, panjang 15-25 cm, hijau gelap,
langsing dan kaku, dengan satu atau dua berkas pembuluh pengangkutan dan
saluran resin. Tumbuhan ini hampir selalu berumah satu. Strobilus ♂ aksilar
atau terminal pada sirung pendek, dengan banyak mikrosporofil bertangkai dan
dua kantong sari. Serbuk sari dengan dua gelembung udara, yang pada
perkecambahan merupakan dua sel protalium. Strobilus ♀ terminal atau aksilar,
dengan banyak sisik-sisik penutup yang tersusun dalam spiral. Pada ketiak sisik
penutup terdapat satu sisik biji dengan dua bakal biji yang mikropilnya
menghadap ke sumbu. Sehabis penyerbukan sisik-sisik penutup dan sisik-sisik
biji membesar dan mengayu selanjutnya terjadilah buah yang berbentuk kerucut.
Biji kecil, oval, ringan, mempunyai sayap ke samping, lembaga dengan 2-15 daun
lembaga. Berbunga pada bulan Mei-Juni. Buah masak pada bulan Oktober-Nopember.
Daerah penyebaran hanya dijumpai di belahan selatan ekuator yaitu
Kamboja, Vietnam, Thailand, Burma, Pilipina, China, Malaysia dan Indonesia
(Sumatera). Sangat baik tumbuh pada ketinggian 800-2000 m dpl., area
terbuka, dan tanah berpasir atau tanah merah.
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan
berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta
(Menghasilkan biji)
Divisi: Coniferophyta
Kelas: Pinopsida
Ordo: Pinales
Famili: Pinaceae
Genus: Pinus
Spesies: Pinus merkusii
Jungh.& De Vr.
Gambar 1. Pinus Merkusi
Sumber:
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgyFK6qMu6wFZt1yyuDPWEV3VHJUsfhfZrxBC4zExvzAoU2RGLQt3C43qMAOIw6LPeBPm6ZzzB5F1MTHMHGLKL6fIa6x5DcBoySdSco_nCxWWneEqZtCv0o07kKos0gUrMsJXvmIotxI_A/s1600/Pinus_merkusii.jpg
|
b.
Melinjo (Gnetum gnemon Linn)
Melinjo
merupakan tumbuhan tahunan berbiji terbuka, berbentuk pohon yang berumah dua (dioecious, ada individu jantan dan betina). Bijinya tidak terbungkus daging
tetapi terbungkus kulit luar. Batangnya kokoh dan bisa dimanfaatkan sebagai
bahan bangunan. Daunnya tunggal berbentuk oval dengan
ujung tumpul. Melinjo tidak menghasilkan bunga dan buah sejati karena bukan termasuk tumbuhan berbunga. Yang dianggap
sebagai buah sebenarnya adalah biji yang terbungkus oleh selapis aril yang
berdaging.
Tanaman melinjo dapat tumbuh mencapai
100 tahun lebih dan setiap panen raya mampu menghasilkan melinjo sebanyak 80 -
100 Kg, bila tidak dipangkas bisa mencapai ketinggian 25 m dari permukaan
tanah.
Tanaman melinjo dapat diperbanyak
dengan cara generatif (biji) atau vegetatif (cangkokan, okulasi, penyambungan
dan stek).
Klasifikasi
ilmiah
Kerajaan:
|
Plantae
|
Divisi:
|
Gnetophyta
|
Kelas:
|
Gnetopsida
|
Ordo:
|
Gnetales
|
Famili:
|
Gnetaceae
|
Genus:
|
Gnetum
|
Spesies:
|
G. gnemon
|
Gambar 2. Melinjo (Gnetum
gnemon)
Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/2d/Gnetum_gnemon.jpg/200px-Gnetum_gnemon.jpg
|
Alang-alang atau ilalang ialah sejenis rumput berdaun tajam, yang kerap menjadi gulma di lahan pertanian. Rumput ini juga dikenal dengan
nama-nama daerah seperti alalang, halalang (Min.), lalang (Mly., Md., Bl.), eurih (Sd.), rih (Bat.), jih (Gayo), re (Sas., Sumbawa), rii, kii, ki (Flores), rie (Tanimbar), reya
(Sulsel), eri, weri, weli (Ambon dan Seram), kusu-kusu (Menado, Ternate dan Tidore), nguusu (Halmahera), wusu, wutsu (Sumba) dan lain-lain.
Nama ilmiahnya
adalah Imperata cylindrica, dan ditempatkan dalam anak suku Panicoideae. Dalam bahasa Inggris dikenal sebagai bladygrass,
cogongrass, speargrass, silver-spike atau secara umum disebut satintail,
mengacu pada malai bunganya yang berambut putih halus. Orang Belanda menamainya snijgras, karena
sisi daunnya yang tajam melukai.
Klasifikasi
ilmiah
Kerajaan:
|
Plantae
|
Divisi:
|
Magnoliophyta
|
Kelas:
|
Liliopsida
|
Ordo:
|
Poales
|
Famili:
|
Poaceae
|
Genus:
|
Imperata
|
Spesies:
|
I. cylindrica
|
Gambar 3. Alang-alang
Sumber: http://biojana.com/wp-content/uploads/2012/08/Alang-alang.jpg
|
d.
Putri Malu (Mimosa
pudica L)
Putri malu atau Mimosa pudica adalah perdu pendek anggota suku
polong-polongan yang
mudah dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat
menutup/"layu" dengan sendirinya saat disentuh. Walaupun sejumlah
anggota polong-polongan dapat melakukan hal yang sama, putri malu bereaksi
lebih cepat daripada jenis lainnya. Kelayuan ini bersifat sementara karena
setelah beberapa menit keadaannya akan pulih seperti semula.
Tumbuhan ini memiliki banyak sekali
nama lain sesuai sifatnya tersebut, seperti makahiya (Filipina, berarti
"malu"), mori vivi (Hindia Barat), nidikumba (Sinhala,
berarti "tidur"), mate-loi (Tonga, berarti "pura-pura
mati") . Namanya dalam bahasa Tionghoa berarti "rumput pemalu".
Kata pudica sendiri dalam bahasa Latin berarti "malu" atau
"menciut".
Keunikan dari tanaman ini adalah bila
daunnya disentuh, ditiup, atau dipanaskan akan segera "menutup". Hal
ini disebabkan oleh terjadinya perubahan tekanan turgor pada
tulang daun. Rangsang tersebut juga bisa dirasakan daun lain yang tidak ikut
tersentuh. Gerak ini disebut seismonasti, yang walaupun dipengaruhi rangsang
sentuhan (tigmonasti), sebagai contoh, gerakan tigmonasti daun putri malu
tidak peduli darimana arah datangnya sentuhan. Tanaman ini juga menguncup saat
matahari terbenam dan merekah kembali setelah matahari terbit. Tanaman putri
malu menutup daunnya untuk melindungi diri dari hewan pemakan tumbuhan (herbivora) yang ingin memakannya. Warna daun bagian bawah tanaman
putri malu berwarna lebih pucat, dengan menunjukkan warna yang pucat, hewan
yang tadinya ingin memakan tumbuhan ini akan berpikir bahwa tumbuhan tersebut
telah layu dan menjadi tidak berminat lagi untuk memakannya.
Gambar 4. Putri Malu
Sumber: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg02sTJ94E_9H21VhuOYB8L2ozV7yrgZ1Sa-2O7m0Mu-H8m94uzIZy2Ns5lZ9Eq0Eh_ypL0vWvjsLeP2s5LviBT-ODTDbt3Fcq7pSNhpyPx5GJe2qjC1KhHMBh_TkuhgO-6aQjiAiLa4Ys/s1600/putri+malu.jpg
|
4.2.2. Lumut (Bryophyta)
Tumbuhan lumut merupakan sekumpulan
tumbuhan kecil yang termasuk dalam Bryophytina
(dari bahasa
Yunani bryum,
"lumut").
Tumbuhan ini
sudah menunjukkan diferensiasi tegas antara organ penyerap hara dan organ fotosintetik namun belum memiliki akar dan daun sejati. Kelompok tumbuhan ini juga belum memiliki
pembuluh sejati. Alih-alih akar, organ penyerap haranya adalah rizoid
(harafiah: "serupa akar"). Daun tumbuhan lumut dapat berfotosintesis.
Tumbuhan lumut merupakan tumbuhan pelopor, yang tumbuh di suatu tempat sebelum
tumbuhan lain mampu tumbuh. Ini terjadi karena tumbuhan lumut berukuran kecil
tetapi membentuk koloni yang dapat menjangkau area yang luas. Jaringan tumbuhan
yang mati menjadi sumber hara bagi tumbuhan lumut lain dan tumbuhan yang
lainnya.
Dalam bahasa
sehari-hari, istilah "lumut" dapat merujuk pada beberapa
divisio. Klasifikasi lama pun menggabungkan pula lumut hati dan lumut tanduk ke dalam Bryophyta, sehingga di dalam
Bryophyta terangkum lumut tanduk, lumut hati, dan lumut sejati (Musci). Namun, perkembangan dalam
taksonomi tumbuhan menunjukkan bahwa penggabungan ini parafiletik, sehingga diputuskan untuk memisahkan
lumut hati dan lumut tanduk ke luar dari Bryophyta. Di dunia terdapat sekitar
4.000 spesies tumbuhan lumut (termasuk lumut hati), 3.000 di antaranya tumbuh
di Indonesia[1]. Kebun
Raya Cibodas di Jawa Barat memiliki "taman lumut" yang
mengoleksi berbagai tumbuhan lumut dan lumut hati dari berbagai wilayah di Indonesia
dan dunia.
Gambar 5. Lumut
Sumber: http://www.fobi.web.id/fbi/d/21141-2/Bryophyta_CM_002.jpg
|
4.2.3. Thallophyta
Divisi
ini meliputi tumbuhan-tumbuhan yang memiliki ciri utama tubuh yang berbentuk
talus. Tumbuhan talus merupakan tumbuhan yang struktur tubuhnya masih belum
bisa dibedakan antara akar, batang dan daun. Sedangkan tumbuhan yang sudah
dapat dibedakan antara akar, batang dan daun disebut dengan tumbuhan kormus.
Ciri laen dari tumbuhan talus ini adalah tersusun oleh satu sel yang berbentuk
bulat hingga banyak sel yang kadang-kadang mirip dengan tumbuhan tingkat tinggi
(sudah mengalami diferensiasi). Perkembangbiakan pada umumnya secara vegetatif
(aseksual) dan generatif (seksual) dengan spora sebagai alat
perkembangbiakannya. Perkembangbiakan secara generatif terjadi melalui
peleburan gamet yang terbentuk didalam organ yang disebut gametangium. Cara
hidup pada tumbuhan talus ada tiga cara yaitu : autotrof (asimilasi dengan
fotosintesis), heterotrof dan simbiosis.
a.
Jamur Ganoderma
Ganoderma sp. merupakan jamur patogen (penyebab penyakit) akar merah yang
menyebabkan kerusakan tanaman perkebunan dan kehutanan. Karena sifatnya yang
memiliki kisaran inang yang luas, tidak mengherankan kalau Ganoderma sp.
menyerang berbagai jenis tanaman kehutanan dan perkebunan, misalnya beberapa
spesies akasia (Acacia mangium, A. auriculiformis, A. oraria), sengon
(Paraserianthes falcataria), flamboyan (Delonix regia), cemara (Casuarina
equisetifolia), angsana (Pterocarpus indicus), dan kelapa sawit.
Sebagai respon dari meningkatnya serangan jamur akar di perkebunan,
peneliti telah melakukan berbagai penelitian tentang jamur Ganoderma sp.
yang difokuskan pada pengendalian hayati menggunakan jamur lain yang bersifat
parasit terhadap Ganoderma sp., yaitu Trichoderma sp. Trichoderma spp. dikenal
sebagai salah satu jamur yang mempunyai sifat antagonis terhadap jamur tanah
lain. penelitian yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa Trichoderma
spp. mempunyai kemampuan antagonistic dalam menghambat pertumbuhan jamur-jamur
pathogen terbawa tanah, termasuk Ganodema sp.
Gambar 6. Jamur Ganoderma
Sumber: http://images03.olx.co.id/ui/10/13/68/1291742314_144800568_1-Jamur-Ganoderma-tembung-1291742314.jpg
|
4.2.4. Schizophyta
a. Bakteri
Bakteri (dari kata Latin bacterium; jamak: bacteria)
adalah kelompok organisme yang tidak memiliki membran inti sel.
Organisme ini termasuk ke dalam domain prokariota dan berukuran sangat kecil
(mikroskopik), serta memiliki peran besar dalam kehidupan di bumi. Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok lainnya dapat
memberikan manfaat dibidang pangan, pengobatan, dan industri. Struktur sel bakteri relatif
sederhana: tanpa nukleus/inti sel, kerangka sel, dan organel-organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Hal inilah yang menjadi dasar
perbedaan antara sel prokariot dengan sel eukariot yang lebih kompleks.
Bakteri dapat
ditemukan di hampir semua tempat: di tanah, air, udara, dalam simbiosis dengan organisme lain maupun sebagai
agen parasit (patogen), bahkan dalam tubuh manusia. Pada
umumnya, bakteri berukuran 0,5-5 μm, tetapi ada bakteri tertentu yang dapat
berdiameter hingga 700 μm, yaitu Thiomargarita. Mereka umumnya memiliki dinding sel, seperti sel tumbuhan dan jamur, tetapi dengan bahan pembentuk sangat berbeda (peptidoglikan). Beberapa jenis bakteri bersifat
motil (mampu bergerak) dan mobilitasnya ini disebabkan oleh flagel.
Gambar 7. Bakteri
Sumber: http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/3/32/EscherichiaColi_NIAID.jpg/210px-EscherichiaColi_NIAID.jpg
|
4.2.5. Pteridophyta
Tumbuhan
paku (atau paku-pakuan) adalah sekelompok tumbuhan dengan sistem pembuluh sejati (Tracheophyta, memiliki pembuluh kayu dan pembuluh tapis) tetapi tidak menghasilkan biji untuk reproduksi seksualnya. Alih-alih biji, kelompok tumbuhan ini mempertahankan spora sebagai alat perbanyakan generatifnya, sama seperti lumut dan fungi.
Tumbuhan paku tersebar di seluruh
bagian dunia, kecuali daerah bersalju abadi dan daerah kering (gurun). Total spesies yang diketahui hampir 10.000, dengan
perkiraan 3.000 di antaranya tumbuh di Indonesia. Sebagian besar anggota paku-pakuan
tumbuh di daerah tropika basah yang lembab.
Paku-pakuan cenderung ditemukan pada
kondisi tumbuh marginal, seperti lantai hutan yang lembab, tebing perbukitan,
merayap pada batang pohon atau batuan, di dalam kolam/danau, daerah sekitar
kawah vulkanik, serta sela-sela bangunan yang tidak
terawat. Meskipun demikian, ketersediaan air yang mencukupi pada rentang waktu
tertentu diperlukan karena salah satu tahap hidupnya tergantung pada keberadaan
air, yaitu sebagai media bergeraknya sel sperma menuju sel telur.
Tumbuhan paku pernah merajai
hutan-hutan dunia di Zaman
Karbon sehingga zaman
itu dikenal sebagai masa keemasan tumbuhan paku. Serasah hutan tumbuhan pada zaman ini yang
memfosil dan mengalami mineralisasi sekarang
ditambang orang sebagai batu bara.
Menurut petunjuk-petunjuk paleontologi, banyak yang bersepakat bahwa dari
suatu bentuk tumbuhan paku purba terwujudlah tumbuhan berbunga, suatu kelompok tumbuhan yang
mendominasi vegetasi masa kini.
a.
Paku Fertil
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang telah memiliki kormus atau tumbuhan
yang sudah mempunyai akar, batang, dan daun sejati, juga telah memiliki
jaringan pengangkut xilem dan floem yang terdapat pada daun, batang, dan
akarnya.
Tumbuhan paku dapat hidup di atas tanah atau batu, menempel di kulit
pohon (epifit), di tepi sungai di tempattempat yang lembap (higrofit), hidup di
air (hidrofit), atau di atas sampah atau sisa tumbuhan atau hewan
(saprofit). Sebagian besar tumbuhan paku mempunyai batang yang tumbuh di
dalam tanah yang disebut rhizoma.
Daun mulai tumbuh dari rhizoma tersebut. Daun paku muda ujungnya selalu
menggulung. Daun paku dewasa terdiri atas daun fertil dan daun steril. Daun
steril adalah daun yang tidak ada bintil-bintil hitam di permukaan bawah
daunnya. Daun ini disebut juga daun mandul. Daun fertil adalah daun paku yang
di permukaan bawah daunnya terdapat bintil-bintil kehitaman.
Daun ini disebut juga daun subur. Bintil-bintil kehitaman yang
terletak di permukaan bawah daun ini adalah kumpulan sporangium yang disebut
sorus.
Gambar 8. Paku Fertil
Sumber: http://otastories.files.wordpress.com/2012/06/sorus.jpg
|
V. KSIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Dengan adanya praktikum ini,kita bisa
mengenal beberapa contoh tumbuhan tingkat rendah seperti Schizophyta,
Thollphyta, Bryopita, dan Ploridophita dan juga dapat mempelajari dan mengenal
Spermatophyta (tumbuhan tingkat tinggi). Selain itu juga bisa mengetahui
beberapa jenis tumbuhan dan klasifikasi tumbuhan tersebut seperti bagian-bagian
akar, batang, daun, dan lain sebagainya.
Dan juga bisa mengetahui secara jelas ciri-ciri dari tumbuhan tersebut
dan bentuk dari tumbuhan tersebut.
Klasifikasi adalah
penempatan sebuah kata atau objek tertentu dalam sebuah kelas. Contoh dari
klasifikasi adalah sebuah konsep klasifikasi seperti panas atau dingin. Suatu
konsep perbandingan, seperti lebih panas atau lebih dingin, mengemukakan
hubungan mengenai objek tersebut dalam norma yang mencakup pengertian lebih
atau kurang. Kita tidak boleh mengecilkan kegunaan konsep klasifikasi terutama
pada bidang-bidang dimana metode keilmuwan danmetode kuantitatif belum
berkembang. Klasifikasi juga dapat
berarti usaha menggolong-golongkan segala fase kegiatan dalam sebuah usaha.
Dalam pengertian yang lebih sempit maka klasifikasi meliputi usaha
mengkategorikan bahan-bahan yang dipakai dalam proses produksi. Adapun alasan
orang melakukan klasifikasi ialah agar supaya diketahui dengan pasti fase mana
dari kegiatan masuk dalam golongannya, sedang fase lain masuk dalam golongan
lain. Disadari orang bahwa klasifikasi itu sangat membantu kelancaran jalannya
sebuah usaha atau kegiatan apapun dan memudahkan atau meringankan pekerjaan,
baik pelaksana maupun pemberi instruksi.
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa praktikan
perlu mengetahui klasifikasi tumbuhan terlebih dahulu dan mencari bahan
terlebih dahulu sebelum melakukan praktikum dalam laboratorium agar praktikum
dapat berjalan lancar dan kesalahan yang terjadi akibat ketidaktahuan praktikan
terhadap alat-alat laboratorium dapat dihindari.
5.2. Saran
1.
Dalam
melakukan praktikum hendaknya memakai jas lab.
2.
Setelah
praktikum selesai semua bahan-bahan dan alat-alatnya dikembalikan ketempatnya.
3.
Waktu
menggunakan atau memegang alat-alat mikroskop dan bahannya harus hati-hati.
4.
Apabila
asisstan menjelaskan harus benar-benar diperhatkan atau di catat agar nanti
mudah dalam pembuatan laporan.
DAFTAR PUSTAKA
Balbach, M dan L.C. Bliss. 1996. A Laboratory Manual For Botanu. Sounders
College Publishing, New York.
Copeland, Herbert.
1956. Sistem Empat Kingdom. Amerika.
Haeckel, Ernest.
1866.Sistem Tiga Kingdom. Jerman.
Hennig, Willi. 1960.
Metoda Penentuan Cabang Dalam Pohon
Kehidupan. Entomolog. Jerman.
Jacklet, A. 1998. Laboratory Manual Life. Trird Editional. Jerman.
Linnaeus, Carolus.
1735. Sistem Klasifikasi Makhluk Hidup
Berdasarkan Kepada Penampakan Fisiknya.Swedia.
Linnaeus, C.
1735. Sistem Dua Kingdom. Swedia.
Whittaker, H, Robert1969. Sistem
Lima Kondom. Amerika.
LAMPIRAN
|


09.40
Unknown
Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar